INFORMASI PENYAKIT EPILEPSI
Apa Itu Epilepsi?
Epilepsi adalah kejang berulang pada sebagian atau seluruh tubuh akibat gangguan pada pola aktivitas listrik di otak. Penyakit ini tidak menular dan dapat terkontrol dengan pengobatan yang rutin dan tepat. Seseorang dinyatakan menderita epilepsi jika pernah mengalami kejang lebih dari satu kali tanpa penyebab yang jelas. Epilepsi dapat diderita oleh semua kelompok usia, tetapi biasanya dimulai saat masih anak-anak atau saat berusia lebih dari 60 tahun.
Jenis-Jenis Penyakit Epilepsi
Secara besar penyakit epilepsi dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu epilepsi fokal dan epilepsi umum. Berikut ini penjelasannya:
1. Epilepsi Fokal (Parsial)
Epilepsi fokal (parsial) adalah jenis epilepsi yang terjadi akibat aktivitas sel saraf abnormal yang awalnya terjadi pada satu bagian otak, kemudian menyebar ke area lain. Epilepsi fokal biasanya terjadi hanya pada setengah badan saja, misalnya hanya terjadi pada sebelah kiri dan gerakan kejang tidak mirip. Epilepsi fokal dikelompokkan menjadi beberapa jenis, yaitu:
a. Kejang Parsial Sederhana
Kejang parsial sederhana adalah kejang yang terjadi pada bagian di salah satu sisi otak, tetapi juga bisa menyebar ke bagian otak lainnya. Jenis ini tidak memengaruhi kesadaran atau ingatan.
b. Kejang Parsial Kompleks
Kejang parsial kompleks merupakan jenis kejang yang bisa terjadi sesaat setelah kejang parsial sederhana. Jenis ini memengaruhi perilaku, kesadaran, atau ingatan sebelum, saat, dan sesaat setelah mengalami kejang.
2. Epilepsi Umum
Epilepsi umum adalah jenis epilepsi yang terjadi akibat aktivitas sel saraf yang abnormal pada kedua sisi otak secara bersamaan. Biasanya gejalanya meliputi, gerakan kejang yang sama, adanya kelainan seperti faktor genetik. Epilepsi umum dikelompokkan menjadi beberapa jenis, yaitu:
a. Kejang Absans
Kejang absans adalah kejang yang ditandai dengan gejala seperti menatap kosong selama beberapa detik ketika kejang terjadi. Meski hanya berlangsung dalam waktu singkat, kejang absans dapat terjadi berulang kali dalam sehari.
b. Kejang Atonik
Kejang atonik adalah kejang yang ditandai dengan tubuh terasa pincang atau kehilangan kontrol otot. Kejang atonik menyebabkan pengidapnya menjadi lemas, seolah-olah semua otot di tubuhnya berhenti bekerja.
c. Kejang Mioklonik
Kejang mioklonik adalah jenis kejang yang disebabkan oleh kontraksi otot yang terjadi tiba-tiba. Tipe kejang ini dapat memengaruhi seluruh tubuh.
d. Kejang Tonik-Klonik
Kejang toknik-klonik adalah jenis kejang yang ditandai dengan gerakan kaki dan menyentak. Umumnya, ini adalah gangguan fungsi pada kedua sisi otak.
e. Kejang Klonik
Kejang klonik adalah jenis kejang yang ditandai dengan dengan kaku dan tegang pada otot. Serta penderita sering mengalami jatuh akibat hilangnya keseimbangan.
Gejala Epilepsi
Berikut ini adalah gejala-gejala yang dapat terjadi ketika seseorang mengalami kejang, yaitu:
- Mengeluarkan busa atau air liur dari mulut
- Mulut mencong
- Mulut mengecap
- Menggigit lidah
- Mata mendelik ke atas
- Tatapan kosong atau melamun
- Daya ingat terganggu
- Mengantuk
- Hilang kesadaran atau kebingungan
- Rasa kesemutan atau keram
- Timbulnya halusinasi
- Merasa lemas
- Migrain
- Gerakan kejang yang sama berulang kali
- Gerakan kejang yang tidak sama berulang kali
- Kedua tangan kaku
- Mengeluarkan urine
- Keterbelakangan mental
- Kontraksi tiba-tiba pada otot
- Mengorok
- Gemetar pada tubuh
- Sulit bernafas
- Kejang pada satu bagian tubuh
- Kejang pada seluruh bagian tubuh
- Sering jatuh akibat hilangnya keseimbangan
- Hentakan tiba-tiba pada kaki, lengan, atau wajah
- Rasa ketakutan atau cemas
- Ketidakmampuan berbicara walau hanya sementara
- Tiba-tiba menghentikan pembicaraan di tengah kalimat
- Faktor genetik atau keturunan
Cara Penanganan Epilepsi
Berikut ini merupakan beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menangani risiko terjadinya kejang atau epilepsi, yaitu:
- Mengonsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang
- Mengenali pencetus kejang sehingga serangannya dapat dihindari, seperti lupa minum obat, kurang tidur, stres fisik dan emosional
- Memperbanyak istirahat yang cukup, dan rutin berolahraga
- Mengonsumsi obat anti kejang sesuai anjuran dokter
- Perlu membatasi aktivitas tertentu hingga kejangnya terkendali, seperti berenang, mengemudi, dan lain-lain
- Melakukan pemeriksaan kesehatan seperti tes darah, Electroencephalogram (EEG), Magnetic Resonance Imaging (MRI), dan CT Scan pada otak